Oleh: Amir Hamzah

It is not accumulated curricular knowladge that we most deeply offer our children in educating them. It is not…their mastery of requisite skill or their grade-point  average, bur literrally their ability to live, their ability ro be an Earth that will sustain their lives….[Curriculum] is concerned with the knowladge—perhaps we must say the wisdom, even if we find such nations vaguely embrrassing, antiquated, unrigorous, or unclear—that we must pass onto our children so that life on Earth can go on (Jardine 1997).

Sejak ditangguhkannya penggunaan kurikulum 2013 oleh mentri pendidikan Anis Baswedan, publik menjadi ramai. Semua berbicara tentang kurikulum, semua menjadi komentator, bahkan orang yang tidak pernah mendengar kosa kata kurikulum sekalipun, juga ikut-ikutan angkat bicara. Mulai dari wakil presiden sampai penjual jajanan di sekolah. Memang, bangsa kita lebih suka berbicara, rasan-rasan dan ngegosip daripada menelaah secara rasional dengan membaca literatur yang berhubungan dengan masalah yang dimaksud.

Apa sih sebenarnya kurikulum itu? Secara sederhana, kurikulum hanya seperangkat pedoman yang dibuat untuk pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Artinya, siapapun boleh membuat kurikulum sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Namun, seiring dengan perkembangan lembaga pendidikan yang menerapkan sistem persekolahan dan memperkuat asumsi bahwa bersekolah itu sama dengan pendidikan, maka kurikulum akhirnya menjadi hak milik pemerintah. Sebagaimana tafsir UUD 1945 Pasal 31 ayat 3 yang berbunyi “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional”—yang melegitimasi bahwa sekolah adalah satu-satunya penyelenggara sistem pendidikan yang diregulasi oleh pemerintah sehingga sekolah diidentikan dengan pendidikan. Di sinilah kesalahan fundamental berlangsung sebagaimana kesalahan memaknai belajar sama dan identik dengan bersekolah. Kesalahan tersebut makin bertambah buruk ketika program wajib belajar dianggap sebagai program wajib bersekolah dan tentu saja orang yang tidak bersekolah dianggap tidak berpendidikan.

Pertanyaannya, apakah sekolah sudah berhasil memroduksi pendidikan yang baik? Suka atau tidak—akhir-akhir ini sekolah telah kehilangan makna sebagai wahana pendidikan yang dibutuhkan masyarakat. Berbagai problem krusial yang meletup seperti kekerasan, anarkisme, dekadensi moral, dan bahkan disintegrasi bangsa justru banyak terjadi di lembaga-lembaga pendidikan. Apakah sesungguhnya yang telah terjadi dengan dunia pendidikan nasional yang menerapkan sistem persekolahan itu?” dan “Apakah kritik Ivan Illich dengan  Deschooling Society, Everett  dengan The End of School, Paulo Freire dengan Pedagogy of the Oppressed, Neil Postman dengan  The End of Education,  sejalan dengan fenomena yang terjadi sekarang?”

DI MANAKAH PERAN GURU?

Whitehead (1967) dengan bijak menyatakan bahwa pentingnya sebuah pengetahuan terletak pada kegunaannya, pada penguasaan terhadap pengetahuan itu, dengan kata lain terletak pada kearifan, kearifan adalah sesuatu yang berurusan dengan penanganan pengetahuan, pemilihan pengetahuan utuk menetapkan hal-hal yang relevan, dan menerapkannya untuk nilai dari pengalaman langsung. Hal ini memiliki relevansi dengan Permendiknas no. 22 Tahun 2006 yang mengacu pada peningkatan mutu pendidikan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas bangsa seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Jelas tidak ada yang salah dengan tujuan tersebut, tinggal bagaimana mengimplementasikannya di tingkat satuan pendidikan sehingga cita-cita luhur yang dimaksudkan tidak menjadi omong kosong.

Salah satu alasan yang paling sering diujarkan oleh mentri pendidikan kita berkaitan dengan penangguhan kurikulum 2013 adalah karena lemahnya implementasi yang disebabkan oleh ketidaksiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran—dengan lain kata—guru-guru masih belum kompeten, infrastruktur sekolah masih carut marut, budaya belajar guru dan siswa masih amat rendah, di samping pendistribusian buku pelajaran masih amburadul, tatacara penilaian jlimet, konsep-konsep pembelajaran yang belum bisa diadopsi sepenuhnya, dsb. Singkat kata, K-13 adalah “gombal”. Argumentasinya, bagaimana mungkin K-13 dapat dilaksanakan dengan baik jika minim kesiapan? Bukankah sudah menjadi pemahaman umum bahwa untuk mencapai satu tujuan besar tidak bisa dengan cara coba-coba atau bongkar pasang?

Kembali lagi kepada konsep, kurikulum sering juga dibedakan antara kurikulum sebagai rencana dan sebagai fungsi. Menurut Beauchamp (1968) “A curriculum is a written document which many contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupil during their enrolment in given school”. Pendapat ini menekankan bahwa pelaksanaan rencana sudah termasuk dalam pengajaran. Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa kebaikan suatu kurikulum tidak dapat dinilai dari dokumen tertulisnya saja, tetapi harus dinilai dalam proses pelaksanaan fungsinya dalam implementasi yang memberikan pedoman dan mengatur lingkungan serta kegiatan yang berlangsung. Rencana tertulis merupakan dokumen kurikulum sedangkan yang dioperasikan merupakan kurikulum fungsional.

Taba (1962) mempunyai pendapat yang berbeda, menurutnya perbedaan antara kurikulum dan pembelajaran terletak pada keluasan cakupannya, bukan pada implementasinya. Kurikulum berkenaan dengan cakupan tujuan isi yang luas atau lebih umum, sedangkan tujuan yang sempit menjadi tugas pengajaran. Selanjutnya Taba berargumen bahwa keduanya sangat relatif, bergantung tafsiran guru. sebagai contoh, dalam kurikulum tertulis isi harus digambarkan secara rinci dan mudah dipahami guru, tetapi cukup luas dan umum sehingga memungkinkan mencakup semua bahan yang dapat dipilih oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa serta kemampuan guru dalam mengimpentasikan. Kurikulum memberikan pegangan bagi pelaksanaan pengajaran di kelas, tetapi yang terpenting tugas dan tanggung jawab guru untuk menjabarkannya.

Di sinilah peran guru yang sesungguhnya, bagaimanapun canggihnya sebuah kurikulum, di tangan guru yang tidak memiliki kompetensi, kurikulum tetap akan menjadi bisu. Artinya, di tangan guru yang memiliki kompetensi yang baik, kurikulum apapun akan sangat berguna. Untuk itu, kewajiban guru adalah meng-up grade kemampuan profesional dan akademiknya untuk mengimbangi perkembangan dan kemajun dunia pendidikan yang semakin kencang. Bukan masanya lagi guru menjadi pengabar buku pelajaran dan penyampai tujuan-tujuan pembelajaran yang ingin dicapai di depan kelas. Guru harus dapat melakukan ekplorasi kreatifitas terhadap refrensi-refrensi yang memungkinkan dikembangkannya kurikulum dalam bentuknya yang paling ideal dan humanis.

 

KURIKULUM WISDOM

Tujuan utama dari kurikulum humanis adalah perkembangan dari dan aktualisasi diri manusia secara otonom. Dalam humanisme, belajar adalah proses yang berpusat pada pelajar dan dipersonalisasikan, sementara peran pendidik adalah sebagai fasilitator. Afeksi dan kebutuhan kognitif adalah kuncinya, sedangkan tujuannya adalah membangun manusia yang dapat mengaktualisasikan diri dalam lingkungan yang kooperatif dan suportif. Di samping itu, pada hakekatnya setiap manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Oleh karenanya, setiap diri manusia adalah bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang mencapai aktualisasi diri secara maksimal. Menurut Gage dan Berline beberapa prinsip dasar dari pendekatan humanistik yang dapat digunakan  untuk mengembangkan kurikulum pendidikan, yaitu: (1) murid akan belajar dengan baik terhadap apa yang mereka mau dan perlu ketahui, (2) mengetahui bagaimana cara belajar lebih penting daripada membutuhkan banyak pengetahuan, (3) evaluasi diri adalah satu satunya evaluasi yang berarti untuk pekerjaan murid—penekanannya adalah pada perkembangan internal dan regulasi diri, sementara banyak pengajar yang memaksakan evaluasi pembelajaran yang hanya mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan kemauan eksternal, (4) perasaan adalah sama penting dengan kenyataan, karenanya pengajar yang berorientasi humanistik membuat sumbangan yang berarti untuk dasar pengetahuan bagi murid sebagai bekal pengembangkan diri pada masa perkembangan selanjutnya, dan (5) murid akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak mengancam, baik secara psikologis, emosional dan fisikal.

Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan kurikukum untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Psikologi humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Sekolah harus berhati-hati supaya tidak membunuh bakat dan kreatifitas dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap, artinya tidak benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi. Singkat kata, pendekatan humanistik menekankan pada arah perkembangan yang positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka miliki dan mengembangkan kemampuan tersebut.

Kemampuan membangun diri secara positif menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Guru harus berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Para pendidik hanya membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Hal ini sesuai dengan cita-cita pendidikan yang menginginkan perkembangan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena sosial.

Indikator keberhasilannya adalah: siswa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir siswa, serta meningkatnya kemauan sendiri. Sementara, ciri-ciri guru yang baik adalah yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Mampu mengatur ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikannya pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada. Nah, sudahkah anda menjadi guru yang melaksanakan kurikulum wisdom? Apapun nama dan model kurikulumnya.

 

 

Penulis adalah dosen STITMU Bangkalan.